Saturday, December 8, 2012

Molly Bondan

Penterjemah Pidato Bung Karno
 
Oleh : Alit Bondan *)

Molly Bondan lahir dengan nama gadis Marry Alithea Warner di Auckland, Selandia Baru pada tanggal 9 Januari 1912. Dibesarkan di Australia dan menikah dengan Mohamad Bondan, Perintis kemerdekaan Republik Indonesia yang dibuang oleh Belanda ke Boven Digul bersamasama Rombongan Bung Hatta dari Tahun 1934 sampai 1943. Ketika Jepang menyerbu Indonesia, Bung Hatta kembali ke Jawa dan Mohamad Bondan dilarikan ke Australia. Disanalah mereka bertemu dan menikah pada tahun 1946.

Dengan pesawat Komisi Tiga Negara ( KTN ), Moh.Bondan beserta keluarga diterbangkan dari Brisbane ke Jogyakarta ( Ibu Kota Republik Indonesia Masa Itu ) pada tahun 1947. Di Jogyakarta mereka di rumah dr.Sutarto, adik ipar Bung Hatta dari tahun 1947 sampai dengan 1950. Moh.Bondan bekerja di Kementrian Perburuhan sedangkan Molly Bondan bekerja di RRI Jogyakarta di bawah pimpinan Yusuf Ronodipuro, sebagai penyiar bahasa Inggris untuk siaran berita luar negeri yang mengumandangkan berita-berita perjuangan Republik Indonesia.

Molly Bondan aktif pada siaran RRI , menulis dan mengajar Bahasa Inggris, dan karena kedekatannya dengan Bung Hatta, dipercaya Oleh Bung Karno untuk menterjemahkan pidatopidato kenegaraannya ke dalam Bahasa Inggris., terutama pidato 17 Agustus sejak Tahun 1950 s/d 1966. Pidato dalam bahasa Inggris tersebut dimaksudkan untuk konsumsi diplomat-diplomat asing , wartawan asing dan undangan lainnya dari negara sahabat yang hadir dan untuk siaran langsung ke luar negeri.

Judul Pidato 17 Agustus Bung Karno yang diterjemahkan Molly Bondan ialah :
  • Dari Sabang sampai Merauke ( 1950 ),
  • Capailah Tata Tenteram Kerta Raharja ( 1951 ),
  • Harapan dan Keyataan ( 1942 ),
  • Jadilah Alat Sejarah ( 1953 ),
  • Berirama dengan Kodrat ( 1954 ),
  • Tetap terbanglah Rajawali ( 1955 ),
  • Berilah isi kepada hidupmu ( 1956 ),
  • Satu Tahun Ketentuan ( 1958 ),
  • Tahun Tantangan ( 1958 ),
  • Penemuan kembali revolusi kita ( 1959 ),
  • Laksana malaikat yang menyerbu dari langit, Jalannya revolusi kita, ( Jarek ) ( 1960 ),
  • Resopim ( 1961 ),
  • Tahun kemenangan ( Takem ) ( 1962 ),
  • Genta Suara Republik Indonesia ( Gesuri ) ( 1963 ),
  • Tahun Vivere Pericoloso ( Tavip ) ( 1964 ),
  • Capailah Bintang – bintang di langit ( 1965 ),
  • Jangan Sekali-kali meninggalkan Sejarah ( 1966 ).
Selain itu Molly Bondan juga aktif dalam konferensi – konferensi Internasional sebagai staf Sekretariat dengan tugas menterjemahkan dan mengurus pidato-pidato para delegasi, antara lain dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung pada tahun 1955, Juga konferensi Colombo Plan ke 11 di Jogyakarta pada tahun 1959. Bahan kuliah Bung Karno mengenai Marhaenisme yang berjudul Shaping and Reshaping Indonesia , yang dipaparkannya pada tanggal 3 Juli 1957 untu memperingati 30 Tahun berdirinya Partai Nasional Indonesia juga disusun dengan bantuan Molly Bondan. Pidato Bung Karno di PBB tahun 1958 dengan judul To Build The World A New , juga tak lepas dari sentuhan Molly Bondan.

Pengalaman lainnya yang agak unik terjadi tahun 1959 yang dialami Molly Bondan ditunjuk sebagai penterjemah dalam sidang pengadilan Allan Laurence Pope , penerbang Amerika yang ditembak jatuh di atas laut Arafuru setahun sebelumnya. Setelah menjalani tugas dalam persidangan yang melelahkan, Molly beserta anaknya berlibur selama lima minggu ke Australia sekaligus menemui ibunda beserta adik-adiknya yang tinggal disana.

Perpindahan statusnya dari Kementrian Penerangan ke Kementrian Luar Negeri pada tahun 1960 , tidak banyak mengubah bidang tugas Molly Bondan. Sebagai Penyiar Radio , tetap mengasuh Rubrik Surat Terbuka dan serial This is Indonesia di Programa III RRI Jakarta yang ditujukan bagi orang-orang asing yang tinggal di Indonesia. Sebagai penulis dan pengajar Bahasa inggris untuk karyawan-karyawan Kementrian Luar Negeri yang akan ditugaskan, menjadi Atase Penerangan di Luar Negeri tetap dilaksanakan di samping tugas-tugas dari Bung Karno dan tugas-tugas mengikuti Konferensi-Konferensi Internasional.

Molly Bondan Ikut serta menyusun Pidato Bung Karno di Konferensi Tingkat Tinggi Non Blok di Beograd, Yugoslavia Tahun 1961. Kemudian pidato Bung Karno pada peringatan 10 Tahun Konferensi Asia Afrika bulan April 1965 di Bandung. Bulan Juni 1963 membantu delegasi Indonesia pada pertemuan tingkat Menteri di Manila yang membahas konsep Maphilindo. Dari Manila diskusi terus dilanjutkan ke Hongkon dan Singapura. Kembali lagi ke Manila dan ada pertemuan lainnya di Kamboja ( menyatukan Malaysia, Philipina dan Indonesia ) gagal di tengah jalan.

Ketemu Ayah.
September 1964, Molly Bondan mengikuti Konferensi Tingkat Tinggi Non Blok ke II di Kairo. Keberadaannya di Kairo ini merupakan suatu peristiwa yang sangat penting baginya. Sebelum keberangkatannya ke Indonesia Tahun 1947, Ayahandanya telah berangkat lebih dahulu dan menetap di Inggris. Pada September 1964 itulah kesempatan terakhir ia bertemu dengan ayahnya yang sedang perjalanan pulang ke Australia dengan Kapal Laut.

Maret 1965 ke Pnom Penh membantu menyusun pidato Bung Karno untuk Konferensi di Parlemen Indo China. Sebenarnya ada 2 orang lagi penterjemah yang bertugas membantu Bung Karno selain Molly Bondan , yaitu : Tom Atkinson dan John Coast . Tom Atkinson adalah Orang Inggris yang menetap di Indonesia sejak Perang Dunia Kedua. Sedangkan John Coast adalah diplomat Inggris di Bangkok dan tertarik dengan perjuangan Rakyat Indonesia. Diam-diam dia menyusup ke Ibukota Republik di Jogyakarta. Tetapi menjelang Tahun 1961 kedua orang Inggris itu satu per satu kembali ke Negaranya. Tinggallah Molly Bondan Seorang diri menjadi Penterjemah setia dari Bung Karno dan Republik Indonesia.

Sang Suami Moh.Bondan pensiun dari Departemen Tenaga Kerja pada tahun 1967, dan Molly sendiri menjalani pensiun dari Departemen Luar Negeri setahun kemudian. Setelah pensiun itu, pernah diminta oleh penerbit Gunung Agung untuk mengerjakan pekerjaan Editorial Buku The Smiling General, biografi Presiden Suharto.

Menerbitkan Buletin
Dengan sang suami Molly menerbitkan buletin bulanan Indonesia Current Affairs, Translation Service Bulletin. Isinya setebal 90 Halaman, diterjemahkan dari berita-berita koran yang terdiri dari berita politik, ekonomi, sosial, budaya dan hankam. Untuk itu Moh.Bondan harus membaca tidak kurang dari 13 koran setiap hari, kecuali minggu , guna memilih berita-berita yang merefleksikan Indonesia. Dan tugas Molly untuk menterjemahkannya ke Bahasa Inggris. Sasaran Buletin tersebut ialah kedutaan-kedutaan asing di Jakarta. Tetapi akhirnya juga menjadi sumber informasi bagi Universitas-universitas luar negeri yang mempunyai kajian mengenai Indonesia.

Kesehatan Moh.Bondan mulai menurun pada tahun 1975. Berhubung tidak ada penggantinya, buletin terpaksa ditutup pada bulan desember 1976. Molly juga pernah menulis di Koran , seperti Harian Kami ( 1968 ), antara lain mengenai Pancasila. Molly juga menyadari bahwa Masyarakat Indonesia membutuhkan banyak ide-ide mengenai kemanusiaan dan keadilan sosial yang telah ada di Dunia Barat sejak abad ke 17. Untuk itu beliau menulis di Kompas sebanyak 11 Artikel berseri selama tahun 1979. Molly Bondan yang telah mengabdikan hidupnya pada Negara Republik Indonesia berhenti menulis pada tahun 1980. Beliau mengidap penyakit kanker yang menyebabkan wafatnya pada tanggal 6 Januari 1990, tiga hari sebelum ulang tahunnya yang ke 78 dan dimakamkan di Tanah Kusir Jakarta Selatan. Pada hari itu, datang ke rumah duka untuk melayat, antara lain : Menteri Luar Negeri Ali Alatas , Menko Kesra Supardjo Rustam, Ibu Rahmi Hatta , S.K.Trimurti, Ruslan Abdul Gani, Maladi, B.M.Diah ( Tiga terakhir pernah menjadi Menteri Penerangan , sebagai atasan Molly ), Duta besar Australia Philip Flood dan lain-lainnya.

Tulisan-tulisannya dalam bahasa Inggris mengenai kebudayaan Indonesia yang ditik dengan mesin tik manual sebanyak 250 halaman masih tersimpan rapi di rumah putra tunggalnya, Alit Bondan. Salah satu topik tulisan almarhum mengenai kebudayaan Indonesia adalah Island of Golden Heritages : Indonesia.

*) Drs. Alit Bondan M.Kom., adalah anak tunggal Molly dengan Moh.Bondan, dosen SEKOLAH TINGGI TEKNIK PLN.

Sumber :
www.sejarah-bondan.net/
http://penanusantara.com

No comments:

Post a Comment